Rabu, 06 Desember 2017

KAMERAD



Tulisan ini bermula dari suatu masa di bulan September, jatuh pada hari Rabu tanggal 13 tahun 2017. Bertempat di Rimbun Espresso & Brew Bar, saat itu ada acara pemutaran film tentang kehidupan di Mentawai. Tak akan kuceritakan tentang film itu walaupun filmnya memang menarik, lain kali saja kubahas. Setelah pemutaran film selesai, duduk dan bercengkrama dengan rekan-rekan mahasiswa dari sesama fakultas, apa-apa saja yang dibahas seakan memutar waktu dan lengkungan bibir ini semakin keatas, bebas lepas, sekiranya inilah yang harus dipahami orang-orang yang terkoyak sepi: berteman. Dengan yang kau sebut teman, bersamanya seakan candu nikmat yang paham betul kau rasakan dari seluruh energimu yang menguap deras untuk membunuh waktu.
Sekiranya ada teman, kusebut saja ia Kamerad, kami bercerita seputar organisasi, karakter individu, hingga perempuan, yang kesemuanya bisa dihubungkan. Terpujilah engkau yang pandai berbicara, terhormatlah aku yang menulis dan mengabadikan momen ini.
Kamerad, engkau memulai pembicaraan dari seputar program kerja di bidang yang aku pimpin di organisasi merah, lalu kita sepakat membahas pengkaderan anggota, bagaimana regenerasi yang baik, target program kerja itu dilaksanakan, karakter dan permasalahan rekan-rekan organisasi kita, dan semua hal itu mencerminkan bahwa sebenarnya, kita peduli, baik itu organisasi, maupun dengan rekan-rekan pengurusnya.
“bung, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing, semuanya punya kesibukan, tinggal bagaimana dia memprioritaskan urusannya dan membagi waktunya, itu saja!”
Ah, kamerad. Kita punya argumen masing-masing tentang pembentukan karakter, kau bilang kita bisa lihat dari gaya dia berbicara dan berperilaku, itulah karakternya. Penampilan bisa menipu, namun karakter akan muncul dengan sendirinya, tidak terwakilkan hanya dengan baju mahalmu, celana kerenmu, atau aksesoris berkilauan punya mamakmu.
Pun begitu, aku juga harus berbenah diri, karakterku sedang mencari-cari, lagi, setelah dihantam memori silam. Atau aku sekarang bisa disebut krisis karakter? Janganlah. Aku hanya mencoba menyembuhkan diri.
Memori silam yang kusebut itu, kulalui bersama Dia, hari demi hari selama beberapa bulan yang diisi karakter dia, juga Dia mengetahui karakterku. Terbawa perasaan yang membuat orang kehilangan kendali atas logikanya, mungkin saja. Dia adalah Hujan di Bulan Juni, kemudian menjelma menjadi Konspirasi Semesta,  lalu setelah kita tidak bersama lagi, menjadi Distilasi Alkena. Mengakui bahwa kita terpaku ego masing-masing, kuharap sama-sama sadar dan memaafkan.
“bung, perempuan itu..tidak harus selalu dimanjakan, dididik dengan pembentukan karakter, diberi kepercayaan, dan saling berkembang satu sama lain. Tidak hanya tentang kasih sayang dan cinta saja”
Ah begitu rupanya yang kusimpulkan, Kamerad.
Aku salah dalam melakukan kebaikan untuk berkembang bersama Dia, engkau Kamerad,  juga sedang bingung memikirkan Sarinah-Sarinah di organisasi kita. Yang kesemuanya masalah kita sama: mengembangkan karakter.
Karakter diri sendiri, teman, pasangan, rekan...
Karakter yang menjadi tanda pengenal alamiah seseorang
Begitulah, pembicaraan yang tiada juntrungnya ini, ngalor-ngidul dengan nikotin dan kafein yang bersemayam di tubuh 

Selasa, 11 Juli 2017

Catatan Beradaptasi

KKN Kecamatan 2x11 Kayutanam, Nagari Anduring, Korong Lubuk Aur. 2017


-Selasa, 4 Juli 2017

Dini hari tersentak, bersiap, melaksanakan  subuh. Aku masih setengah hati pergi, tak apalah. Pukul 9, berkumpul di Unand, menunggu bus hingga 11. Berangkat ke lokasi, singgah di Rumah Makan Nan Kanduang, Batang Anai. Matahari di jam 2 siang, tibalah rombongan di Kantor Wali Nagari. Berbenah, penyambutan dan segala macam tetek bengeknya. Sore hari menempati rumah di Kampung Jambak, Korong Lubuk Aur. Persis di depan Mushalla Akbar. Beramah tamah dengan orang-orang pemilik rumah. Membersihkan diri selepas maghrib, berjamaah shalat. Kemudian ada acara televisi menarik. Menonton hingga tertidur dan terbangun pukul 5.

-Rabu, 5 Juli 2017

Perdana subuh berjamaah, mari berlomba mengukur dingin mana, antara rindu dengannya dan suhu disini, sama-sama menusuk. Kemudian, menyambung kembali perjalanan ke alam mimpi, batal. Sarapan lontong di pagi hari, bercengkrama dengan teman-teman yang lain. Mandilah diriku yang kotor ini pukul 9 kalau tak salah, kemudian keluar mencari kehidupan untuk smartphone dan motor. Tak lama kemudian, hujan. Dua temanku yang lain pergi ke Parit Malintang untuk membuat spanduk posko. Kemudian aku makan sendiri, tapi bersama tamu pemilik rumah, dia jauh dari Surian, anaknya ingin masuk Farmasi. Kemudian dua temanku datang, memasang spanduk dan mulailah pencitraan diantara Korong yang lain. Sore harinya diriku, Dilla, Mutia kuadrat pergi mengelilingi Nagari Anduring menggunakan motor. Kami terpisah, bertemu Keken dan lainnya di Lubuk Napa sedang berjalan kearah Kampung Tangah. Kemudian kami pulang, aku menonton The Boss Baby. Maghrib dan Isya berjamaah, makan malam, kemudian duduk di Kedai Kopi didepan rumah kak Sarah, pukul 10 kami beranjak. Aku bersiap untuk tidur sembari memupuk rindu dengan wanita di Pasaman Timur, simpang alahan mati. Tak lama kemudian, tertidur. Ah iya, di hari ini perutku sakit karena mie.

-Kamis, 6 Juli 2017

Baiklah, aku sedang melawan subuh yang menerkamku dengan senjata suhunya. Setelah aku beribadah, kembali kerumah dan menyambung mimpi namun sekali lagi gagal. Berencana pagi untuk keliling korong namun gagal dan berakhir dengan sarapan nasi goreng. Kemudian membantu Ungku mengecor jalan, kukira jalan tol kayutanam-padang namun hanya jalan dibelakang mushalla. Mengangkat dan mengaduk semen, mengangkat pasir. Hingga pukul 11 pagi, kemudian bebersih diri, shalat dan makan. Kemudian aku sebagai perwakilan pergi rapat, Alen dan Pilman tinggal untuk membantu mengecor jalan lagi. Kami mengadakan rapat nagari di TK sebelah kantor wali nagari. Bertemu rekan-ekan dari korong lain, ah rindu bisa saja. Sembari rapat ada saja hal yang menyenangkan. Selesai rapat, kembali pulang dan ibadah shalat ashar. Kemudian aku membuka laptop dan menyambung tulisan dan menonton video. Masuk maghrib, bergegaslah. Shalat kemudian kiranya membaca al-quran bersama, gugup sudah kiranya menerpaku, aku takut bacaanku salah dan sering dibetulkan, namun setelah itu semua berjalan dengan baik-baik. Tak lama kemudian isya datang. Setelah itu makan malam dan merencanakan kegiatan dengan rekan-rekan yang lain. Setelah itu kembali ke posko dan beristirahat. Kembali lagi aku memupuk rindu dengan mengetik pesan ke dia. Ah, baik-baik saja rupanya. Baiklah, selamat mimpi indah

-Jumat, 7 Juli 2017

Kembali bertarung melawan dingin subuh, tersaruk langkah menuju Musolla Akbar kampung Jambak, Korong Lubuk Aur. Setelah selesai perkara ibadah, kembali bergumul dengan selimut hangat di posko. Sampai pukul 8 pagi, beberes rumah, kemudian sarapan. Bebersih diri untuk bersiap shalat jumat di mesjid besar kayutanam. Hari hujan, nada turunnya cantik berirama. Aku berpisah dengan kawanku, mereka membeli kuota internet. Ak ke kedai tek liwar dan kopi hitam disana nanti yang akan menemaniku, kutunggu mereka tak datang jua, kuputuskan kembali ke posko, bercengkerama lagi dengan Kak Sarah, Mutia dan Dila. Hingga ashar tiba dan aku masih bersantai. Ah, terkadang aku ingin rindu tapi terhalang oleh keadaan yang represif seperti ini. Apa kabar ayah, bunda, leoni, dea, kak farah, dila, dan...kamu? semoga dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Setelah menunaikan ashar, kami berkumpul untuk membahas proker tematik. Sampai maghrib tiba dan kami menundanya kembali hingga selepas isya. Setelah makan malam sesudah menunaikan isya, kami rapat kembali. Suasana canda dan tawa hangat menaungi kami berenam. Jam 10 kurang, kami selesai dan memutuskan kembali ke peraduan masing-masing.

-Sabtu, 8 Juli 2017

Dimuali dari ketidak hadiran diri ke subuh berjamaah, terpedaya kenikmatan alam mimpi sehingga memutuskan untuk subuh sendiri. Kemudian melanjutkan tidur-tiduran sampai pukul 7 dan bersiap-siap untuk keliling korong lubuk aur. Berjalan keliling dengan latar belakang gunung merapi, sawah dan sapaan orang sekitar, kemudian di batu larung kami menunggu di pondok sembari beristirahat dan memakan durian, selepas itu kami kembali pulang. Ah iya, sesampai dirumah, aku dan Pilman bersiap untuk memotong pohon ceri, Alen pergi mencetak spanduk nagari dan para perempuan pergi berbelanja. Setelah selesai dan memasuki waktu zuhur, kami bersiap untuk mandi di air terjun sipisang bersama adik-adik di kampung jambak. Setelah sampai disana, puaslah kami mandi dan bermain. Sampai pukul 4 kami bersiap untuk pulang dan shalat ashar. Dan pukul 5 lewat aku dan Alen pergi rapat ketua korong se-nagari anduring. Membahas rapat tematik revolusi mental. Setelah maghrib, kami pulang, menunaikan shalat maghrib. Kemudian makan malam. Dan terakhir, kai menyiapkan acara bakar-bakar ikan beserta makan durian. Terimakash untuk hari ini

-Minggu, 9 Juli 2017

Kembali lagi, absen subuh berjamaah. Tak apalah menunaikan sendiri. Setelah itu seperti biasa, bergolek-golek ria sampai jam 9. Bersiap diri, sarapan, kemudian pergi ke lubuk napa untuk rapat se-nagari anduring. Membahas tentang proker tematik yaitu gerakan revolusi mental. Rapat berjalan, pendapat sana-sini, sanggahan, dan akhirnya akupun bersuara juga. Kuutarakan pendapatku bahwa lebih fleksibel sistem proker gerakan revolusi mental yang ada 5 buah itu dibagi per fakultas yang sesuai keilmuannya masing-masing, ah tapi tak usahlah kutulis. Aku hanya ingin memberikan opiniku untuk musyawarah bukan untuk dipamerkan kembali disini. Setelah itu rapat nagari selesai dan dilanjutkan rapat gerakan revolusi mental, aku mendapat gerakan Indonesia bersatu, bersama Vanli Isbro, Andi dari Unhas, Eta yang sebenarnya dia mendapat gerakan Indonesia bersih namun karena sendirian memilih untuk berkoalisi bersama kami. Kemudia bang Fuad juga ikut. Rapat selesai sekitaran pukul 2 siang. Kembali ke posko, makan siang. Dan bercerita hal lucu sesama rekan korong lubuk aur. Sampai ashar tiba, aku ke posko cowok, bergolek ria kembali, menghabiskan waktu merenung. Maghrib tiba, berjamaah, kemudian setelah dari musholla, para perempuan penghuni posko sebelah mengabarkan bahwa sambal untuk makan malam tinggal sedikit, maka kita harus makan diluar, baiklah, kami beersiap-siap. Selepas Isya, kami pergi mencari makan diluar nagari, kami menghampiri warung bakso. Setelah kenyang, kembali pulang, menarik selimut, dan tidur.




Senin, 12 Juni 2017

Kamela


Degup hati berawal mimpi
Merebut senyum bagai revolusi
Lika-liku seorang diri
Sampai mendapat cinta sejati

Kucurahkan segalanya padamu, Kamela
Berharap teduh wajahmu jawaban dari semuanya
Suara tawamu candu berat bagiku
Aku butuh rehabilitasi dalam hatimu

Bolehkah aku menyombongkan diri, Kamela?
Berkecamuk perang antar kaum Adam
Untuk mengambil tahta di hatimu
Siapa yang menduga akulah pemenangnya

Sekarang, mari kita susun ulang
Apa-apa yang sudah kita jalani
Segala hal yang menyebabkan perangai
Hingga rindu yang semakin menjadi


Sesekali aku berkata lirih, ingin bersamamu sampai ajal menghampiri dan diatas surga nanti

Rabu, 07 Juni 2017

Secarik Kopi, Segelas Puisi






Kopi dan aku tidak pernah berdusta, kasih
kopi hanya jujur tentang rasa
aku hanya jujur tentang perasaan
dan engkau, kasih. tak tahu kedua hal tersebut

kopi punya cerita
aku punya kata-kata
dan sialnya, kau tak pernah membacanya
malang, nasibku
padahal hanya itu yang kupunya

ah, apapun itu
diantara dua sujud, kuharap
Tuhan masih menyimpan kemungkinan
dibalik beribu-ribu kemustahilan

kusimpan puisi dan senyummu dalam bingkai
mungkin suatu saat nanti ingin membacanya lagi
sambil ditemani kopi dan buah hati

Selasa, 06 Juni 2017

Goesvism



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom.. Om swastiatu. Namo Buddhaya.

Untuk mengawali tulisan pertama di blog ini, perkenalkanlah pemilik blog ini, seorang mahasiswa Sosiologi di Universitas Andalas, berkewarganegaraan Indonesia, sudah cukup umur untuk melakukan hal-hal tertentu.

Pemilihan nama blog ini bukan dimaksudkan mengenalkan paham baru yang dianggap sesat, meciptakan ideologi baru, beraliran radikal, atau untuk membuat agama baru. Tetapi pemilihan nama blog ini merupakan suatu konsep yang didalamnya terdapat buah pikiran dan pandangan terhadap sesuatu dari pemilik blog ini. Seperti halnya Karl Marx yang pemikirannya dinamakan Marxism atau Marxisme, nama Goesvism atau Goesvisme ini diambil dari nama pemiliknya, yaitu Muhammad Rivky Putra Pratama Goesvi. Goesvi sendiri merupakan gabungan nama kedua orangtua pemilik blog ini, dan Goesvi juga terdapat pada nama dua saudaranya.

Silakan menikmati buah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan di blog ini, pemilik blog ini hanyalah manusia yang menggunakan sebenar-benarnya fungsi akal. Jika ada tanggapan terhadap tulisan di blog ini, berkenanlah berkomentar yang membangun.

Mari, menulis untuk kejayaan literasi.


Pengikut

Entri Populer