Pada
periode yang nyaris berlangsung selama beberapa tahun, di bawah pengaruh
khotbah ini, ketaatan dan kesabaran ala budak berkembang secara maksimal,
mencapai proporsi yang nyaris heroik. Sebuah sistem ketaatan tanpa syarat
sekaligus penuh restu terhadap otoritas terbentuk pada masa ini dan diserap ke
dalam seluruh hidup serta daging dan darah setiap orang. Bersama dengan itu
berkembang pula sebuah ilmu administrasi dan birokrasi yang sistematis, tidak
manusiawi dan impersonal. Setiap pejabat menjadi pendeta negara, siap
mengorbankan anak tercintanya di atas altar layanan negara, bukan dengan pisau,
tetapi dengan pena juru tulis. Pada saat yang sama para bangsawan, tak mampu
melakukan apa-apa selain bergiat dalam aktivitas militer dan memperdaya para
budak, menawarkan diri menjadi tentara bayaran dan abdi yang tak bermoral,
sebagai pegawai istana dan diplomat demi beroleh bayaran lebih dari
negara-negara tetangga. Para penduduk kota, taat sampai mati, bertahan, bekerja
keras, membayar pajak yang berat tanpa berkeluh kesah, hidup dalam keadaan yang
memprihatinkan dan terkekang, dan menghibur diri sendiri dengan gagasan perihal
keabadian jiwa. Kekuasaan tak terbatas para pangeran yang tak terhitung
jumlahnya mewabah di antara kalangan mereka sendiri. Para profesor saling
menampar wajah dan kemudian melaporkan satu sama lain kepada pihak berwenang.
Para mahasiswa, membagi waktu mereka antara mencecap pengetahuan yang mati dan
mereguk bir, yang semua itu pantas bagi mereka. Sementara itu tak seorang pun yang
berbicara kepada para buruh yang risau atau mencerahkan pemikiran mereka.
Orang-orang
yang berbicara ilmu pengetahuan mungkin berjumlah ribuan, tetapi hanya ada
beberapa ratus yang benar-benar memiliki pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan
menetapkan hukum kehidupan, maka sebagian besar manusia, jutaan orang, harus
diatur oleh seratus atau dua ratus ilmuwan. Bahkan jumlah ini jauh lebih kecil,
karena itu tidak setiap ilmu mampu membuat individu memeriintah masyarakat,
tetapi ilmu dari ilmu, mahkota dari semua ilmu yaitu sosiologi, yang menganggap
beruntung suara sarjana dihadapan pengetahuan dari semua ilmu lainnya.
Kami
akan menghargai sarjana sesuai dengan jasa-jasa mereka, tetapi untuk
keselamatan intelektualitas dan moralitas mereka tidak harus diberikan berbagai
hak sosial istimewa atau diberikan berbagai hak lainnya daripada satu kebebasan
umum untuk menyebarkan keyakinan, ide, dan pengetahuan mereka. Kekuasaan lebih
tidak harus diberikan kepada mereka dibandingkan kepada yang lainnya, atau
untuk siapa saja yang ditanamkan dengan kekuatan oleh ketetapan hukum sosial
yang pasti menjadi penindas dan pemeras masyarakat.
Boleh
dibilang bahwa ilmu tidak selalu menjadi milik beberapa orang, di masa
mendatang ilmu dapat diakses oleh setiap individu. Memang, masa tersebut masih
jauh, dan banyak gejolak sosial besar yang harus dilalui sebelum itu dimulai.
Sampai itu terjadi, siapa yang akan setuju membiarkan nasibnya berada di tangan
sarjana, di tangan pemimpin ilmu pengetahuan? Kenapa kemudian repot-repot merampasnya
dari tangan pemuka agama?
Hanya
pendidikan ilmiah umum yang akan menjadi milik umum, terutama keakraban dengan
metode ilmiah sebagai cara berpikir, yaitu generalisasi fakta dan menarik
kesimpulan lebih atau kurang benar dari mereka. Namun di sana hanya akan ada
sangat sedikit ensiklopedia pikiran, dan karena itu dipelajari oleh ahli
sosiologi. Celakalah manusia jika
berpikir pernah menjadi sumber dan panduan tunggal kehidupan, jika ilmu
pengetahuan dan pembelajaran mulai memerintah masyarakat. Hidup akan mengering,
dan manusia akan berubah menjadi kawanan bodoh dan budak. Pengaturan kehidupan
dengan ilmu pengetahuan bisa memberikan hasil yang tidak lain untuk mengubah
semua manusia menjadi bodoh.
Kami
anarkis revolusioner adalah pendukung yang universal dari pendidikan,
kebebasan, dan pengembangan yang luas kehidupan sosial, dan karena itu memusuhi
negara dan bentuk kenegaraan. Sebaliknya untuk semua metafisikawan, positivis,
dan sarjana atau bukan sarjana penyembah dewi ilmu pengetahuan, kami bersikukuh
bahwa alam dan kehidupan sosial selalu mendahului pemikiran (yang hanya salah
satu fungsinya), tetapi tidak pernah ada hasilnya.
Sesuai
dengan keyakinan ini, kami tidak memiliki niat atau sedikit keinginan untuk
memaksakan kepada orang-orang kami sendiri atau kepada yang lainnya sebuah
organisasi sosial ideal yang telah kami ambil dari buku atau pikiran milik kami
sendiri. Dalam keyakinan bahwa rakyat menanggung semua unsur norma-norma
organisasi masa depan mereka sendiri kurang lebih secara historis naluri
berevolusi, dalam kebutuhan sehari-hari mereka dan keinginan sadar dan bawah
sadar mereka, kita mencari yang ideal dalam masyarakat kita sendiri. Lantaran
setiap kekuasaan negara, setiap pemerintah, secara alami dan posisinya berdiri
di luar rakyat dan di atas mereka, dan selalu harus mencoba menjinakkan mereka
untuk taat kepada aturan dan tujuan yang asing bagi mereka, kami menyatakan
diri kami sebagai musuh setiap pemerintahan dan setiap kekuasaan negara, musuh
organisasi negara apapun. Kami percaya bahwa rakyat bisa bahagia dan bebas
hanya ketika mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, mengorganisasi diri dari
bawah ke atas dengan cara asosiasi mandiri dan benar-benar bebas, tanpa
didasari bimbingan resmi, tetapi terbuka bagi pengaruh kebebasan serta
keberagaman individu dan kelompok.
Ini
adalah keyakinan revolusioner sosial, dan bagi mereka kami ini adalah anarkis.
Kami tidak keberatan dengan istilah ini karena kami faktanya adalah musuh dari
semua kekuasaan, mengetahui bahwa kekuasaan korup ini ditanamkan di dalamnya
banyak rakyat didorong untuk tunduk pada kekuasaan itu. Di bawah pengaruh buruk
para pendahulu yang menjadi ambisius dan penindas tamak, pengisap masyarakat
untuk keuntungan pribadi atau kelas mereka sendiri, dan berakhir menjadi budak.
Mikhail
Bakunin, ‘Statism & Anarchy’. Yogyakarta: Second Hope, 2017, hlm. 210, 250- 253.
No Country, No Religion, No Heaven, No Hell —John Lennon, “Imagine”, 1971.