Jumat, 25 Mei 2018


Pada periode yang nyaris berlangsung selama beberapa tahun, di bawah pengaruh khotbah ini, ketaatan dan kesabaran ala budak berkembang secara maksimal, mencapai proporsi yang nyaris heroik. Sebuah sistem ketaatan tanpa syarat sekaligus penuh restu terhadap otoritas terbentuk pada masa ini dan diserap ke dalam seluruh hidup serta daging dan darah setiap orang. Bersama dengan itu berkembang pula sebuah ilmu administrasi dan birokrasi yang sistematis, tidak manusiawi dan impersonal. Setiap pejabat menjadi pendeta negara, siap mengorbankan anak tercintanya di atas altar layanan negara, bukan dengan pisau, tetapi dengan pena juru tulis. Pada saat yang sama para bangsawan, tak mampu melakukan apa-apa selain bergiat dalam aktivitas militer dan memperdaya para budak, menawarkan diri menjadi tentara bayaran dan abdi yang tak bermoral, sebagai pegawai istana dan diplomat demi beroleh bayaran lebih dari negara-negara tetangga. Para penduduk kota, taat sampai mati, bertahan, bekerja keras, membayar pajak yang berat tanpa berkeluh kesah, hidup dalam keadaan yang memprihatinkan dan terkekang, dan menghibur diri sendiri dengan gagasan perihal keabadian jiwa. Kekuasaan tak terbatas para pangeran yang tak terhitung jumlahnya mewabah di antara kalangan mereka sendiri. Para profesor saling menampar wajah dan kemudian melaporkan satu sama lain kepada pihak berwenang. Para mahasiswa, membagi waktu mereka antara mencecap pengetahuan yang mati dan mereguk bir, yang semua itu pantas bagi mereka. Sementara itu tak seorang pun yang berbicara kepada para buruh yang risau atau mencerahkan pemikiran mereka.
Orang-orang yang berbicara ilmu pengetahuan mungkin berjumlah ribuan, tetapi hanya ada beberapa ratus yang benar-benar memiliki pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan menetapkan hukum kehidupan, maka sebagian besar manusia, jutaan orang, harus diatur oleh seratus atau dua ratus ilmuwan. Bahkan jumlah ini jauh lebih kecil, karena itu tidak setiap ilmu mampu membuat individu memeriintah masyarakat, tetapi ilmu dari ilmu, mahkota dari semua ilmu yaitu sosiologi, yang menganggap beruntung suara sarjana dihadapan pengetahuan dari semua ilmu lainnya.
Kami akan menghargai sarjana sesuai dengan jasa-jasa mereka, tetapi untuk keselamatan intelektualitas dan moralitas mereka tidak harus diberikan berbagai hak sosial istimewa atau diberikan berbagai hak lainnya daripada satu kebebasan umum untuk menyebarkan keyakinan, ide, dan pengetahuan mereka. Kekuasaan lebih tidak harus diberikan kepada mereka dibandingkan kepada yang lainnya, atau untuk siapa saja yang ditanamkan dengan kekuatan oleh ketetapan hukum sosial yang pasti menjadi penindas dan pemeras masyarakat.
Boleh dibilang bahwa ilmu tidak selalu menjadi milik beberapa orang, di masa mendatang ilmu dapat diakses oleh setiap individu. Memang, masa tersebut masih jauh, dan banyak gejolak sosial besar yang harus dilalui sebelum itu dimulai. Sampai itu terjadi, siapa yang akan setuju membiarkan nasibnya berada di tangan sarjana, di tangan pemimpin ilmu pengetahuan? Kenapa kemudian repot-repot merampasnya dari tangan pemuka agama?
Hanya pendidikan ilmiah umum yang akan menjadi milik umum, terutama keakraban dengan metode ilmiah sebagai cara berpikir, yaitu generalisasi fakta dan menarik kesimpulan lebih atau kurang benar dari mereka. Namun di sana hanya akan ada sangat sedikit ensiklopedia pikiran, dan karena itu dipelajari oleh ahli sosiologi.  Celakalah manusia jika berpikir pernah menjadi sumber dan panduan tunggal kehidupan, jika ilmu pengetahuan dan pembelajaran mulai memerintah masyarakat. Hidup akan mengering, dan manusia akan berubah menjadi kawanan bodoh dan budak. Pengaturan kehidupan dengan ilmu pengetahuan bisa memberikan hasil yang tidak lain untuk mengubah semua manusia menjadi bodoh.
Kami anarkis revolusioner adalah pendukung yang universal dari pendidikan, kebebasan, dan pengembangan yang luas kehidupan sosial, dan karena itu memusuhi negara dan bentuk kenegaraan. Sebaliknya untuk semua metafisikawan, positivis, dan sarjana atau bukan sarjana penyembah dewi ilmu pengetahuan, kami bersikukuh bahwa alam dan kehidupan sosial selalu mendahului pemikiran (yang hanya salah satu fungsinya), tetapi tidak pernah ada hasilnya.
Sesuai dengan keyakinan ini, kami tidak memiliki niat atau sedikit keinginan untuk memaksakan kepada orang-orang kami sendiri atau kepada yang lainnya sebuah organisasi sosial ideal yang telah kami ambil dari buku atau pikiran milik kami sendiri. Dalam keyakinan bahwa rakyat menanggung semua unsur norma-norma organisasi masa depan mereka sendiri kurang lebih secara historis naluri berevolusi, dalam kebutuhan sehari-hari mereka dan keinginan sadar dan bawah sadar mereka, kita mencari yang ideal dalam masyarakat kita sendiri. Lantaran setiap kekuasaan negara, setiap pemerintah, secara alami dan posisinya berdiri di luar rakyat dan di atas mereka, dan selalu harus mencoba menjinakkan mereka untuk taat kepada aturan dan tujuan yang asing bagi mereka, kami menyatakan diri kami sebagai musuh setiap pemerintahan dan setiap kekuasaan negara, musuh organisasi negara apapun. Kami percaya bahwa rakyat bisa bahagia dan bebas hanya ketika mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, mengorganisasi diri dari bawah ke atas dengan cara asosiasi mandiri dan benar-benar bebas, tanpa didasari bimbingan resmi, tetapi terbuka bagi pengaruh kebebasan serta keberagaman individu dan kelompok.
Ini adalah keyakinan revolusioner sosial, dan bagi mereka kami ini adalah anarkis. Kami tidak keberatan dengan istilah ini karena kami faktanya adalah musuh dari semua kekuasaan, mengetahui bahwa kekuasaan korup ini ditanamkan di dalamnya banyak rakyat didorong untuk tunduk pada kekuasaan itu. Di bawah pengaruh buruk para pendahulu yang menjadi ambisius dan penindas tamak, pengisap masyarakat untuk keuntungan pribadi atau kelas mereka sendiri, dan berakhir menjadi budak.

Mikhail Bakunin,  ‘Statism & Anarchy’. Yogyakarta: Second Hope, 2017,  hlm. 210, 250- 253.





No Country, No Religion, No Heaven, No Hell —John Lennon, “Imagine”, 1971.






0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Entri Populer