Tulisan ini bermula dari suatu masa di bulan
September, jatuh pada hari Rabu tanggal 13 tahun 2017. Bertempat di Rimbun
Espresso & Brew Bar, saat itu ada acara pemutaran film tentang kehidupan di
Mentawai. Tak akan kuceritakan tentang film itu walaupun filmnya memang
menarik, lain kali saja kubahas. Setelah pemutaran film selesai, duduk dan
bercengkrama dengan rekan-rekan mahasiswa dari sesama fakultas, apa-apa saja
yang dibahas seakan memutar waktu dan lengkungan bibir ini semakin keatas,
bebas lepas, sekiranya inilah yang harus dipahami orang-orang yang terkoyak
sepi: berteman. Dengan yang kau sebut teman, bersamanya seakan candu nikmat
yang paham betul kau rasakan dari seluruh energimu yang menguap deras untuk
membunuh waktu.
Sekiranya ada teman, kusebut saja ia Kamerad, kami
bercerita seputar organisasi, karakter individu, hingga perempuan, yang
kesemuanya bisa dihubungkan. Terpujilah engkau yang pandai berbicara,
terhormatlah aku yang menulis dan mengabadikan momen ini.
Kamerad, engkau memulai pembicaraan dari seputar
program kerja di bidang yang aku pimpin di organisasi merah, lalu kita sepakat
membahas pengkaderan anggota, bagaimana regenerasi yang baik, target program
kerja itu dilaksanakan, karakter dan permasalahan rekan-rekan organisasi kita,
dan semua hal itu mencerminkan bahwa sebenarnya, kita peduli, baik itu
organisasi, maupun dengan rekan-rekan pengurusnya.
“bung, semuanya kembali kepada kesadaran diri
masing-masing, semuanya punya kesibukan, tinggal bagaimana dia memprioritaskan
urusannya dan membagi waktunya, itu saja!”
Ah, kamerad. Kita punya argumen masing-masing
tentang pembentukan karakter, kau bilang kita bisa lihat dari gaya dia
berbicara dan berperilaku, itulah karakternya. Penampilan bisa menipu, namun
karakter akan muncul dengan sendirinya, tidak terwakilkan hanya dengan baju
mahalmu, celana kerenmu, atau aksesoris berkilauan punya mamakmu.
Pun begitu, aku juga harus berbenah diri, karakterku
sedang mencari-cari, lagi, setelah dihantam memori silam. Atau aku sekarang
bisa disebut krisis karakter? Janganlah. Aku hanya mencoba menyembuhkan diri.
Memori silam yang kusebut itu, kulalui bersama Dia,
hari demi hari selama beberapa bulan yang diisi karakter dia, juga Dia
mengetahui karakterku. Terbawa perasaan yang membuat orang kehilangan kendali
atas logikanya, mungkin saja. Dia adalah Hujan di Bulan Juni, kemudian menjelma
menjadi Konspirasi Semesta, lalu setelah
kita tidak bersama lagi, menjadi Distilasi Alkena. Mengakui bahwa kita terpaku
ego masing-masing, kuharap sama-sama sadar dan memaafkan.
“bung, perempuan itu..tidak harus selalu dimanjakan,
dididik dengan pembentukan karakter, diberi kepercayaan, dan saling berkembang
satu sama lain. Tidak hanya tentang kasih sayang dan cinta saja”
Ah begitu rupanya yang kusimpulkan, Kamerad.
Aku salah dalam melakukan kebaikan untuk berkembang
bersama Dia, engkau Kamerad, juga sedang
bingung memikirkan Sarinah-Sarinah di organisasi kita. Yang kesemuanya masalah
kita sama: mengembangkan karakter.
Karakter diri sendiri, teman, pasangan, rekan...
Karakter yang menjadi tanda pengenal alamiah
seseorang
Begitulah, pembicaraan
yang tiada juntrungnya ini, ngalor-ngidul dengan nikotin dan kafein yang
bersemayam di tubuh
0 komentar:
Posting Komentar